CARI DI GOOGLE

Total Tayangan Halaman

Jumat, 29 Mei 2026

Zuhud Menurut Ulama yang Bermazhab Syafi’i

Zuhud merupakan salah satu akhlak mulia dalam ajaran Islam. Sikap ini sering dipahami sebagai meninggalkan kecintaan berlebihan terhadap dunia dan lebih mengutamakan akhirat. Dalam pandangan para ulama bermazhab Syafi’i, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia sepenuhnya, melainkan menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Pengertian Zuhud

Secara bahasa, zuhud berarti tidak tertarik atau tidak tamak terhadap sesuatu. Sedangkan secara istilah, zuhud adalah sikap hati yang tidak bergantung kepada kenikmatan dunia dan lebih mengharapkan ridha Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Supaya kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(QS. Al-Hadid: 23)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang yang zuhud tidak diperbudak oleh dunia.

Pandangan Imam Syafi’i tentang Zuhud

Imam Syafi’i dikenal sebagai ulama yang memiliki kehidupan sederhana dan penuh wara’. Beliau pernah berkata:

“Zuhud di dunia bukan dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula menyia-nyiakan harta, tetapi zuhud adalah engkau lebih percaya kepada apa yang ada di sisi Allah daripada apa yang ada di tanganmu.”

Perkataan ini menjelaskan bahwa zuhud terletak pada keyakinan hati, bukan pada pakaian, kekayaan, atau penampilan luar semata.

Imam Syafi’i juga menasihati agar manusia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidup. Menurut beliau, ilmu, ibadah, dan akhlak lebih utama daripada kemegahan dunia.

Pandangan Ulama Syafi’iyah tentang Zuhud

1. Imam Al-Ghazali

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang dicintai demi sesuatu yang lebih baik, yaitu akhirat. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, beliau menerangkan bahwa cinta dunia yang berlebihan dapat melalaikan manusia dari Allah SWT.

Menurut beliau, orang zuhud bukan berarti tidak memiliki harta, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh harta tersebut.

2. Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi hidup dengan sangat sederhana walaupun beliau memiliki kedudukan tinggi dalam ilmu agama. Beliau mencontohkan zuhud melalui kehidupan yang penuh ibadah, sedikit tidur, dan menjauhi kemewahan yang berlebihan.

Beliau mengajarkan bahwa zuhud membantu seseorang untuk lebih khusyuk dalam ibadah dan lebih dekat kepada Allah.

3. Imam Al-Baihaqi

Imam Al-Baihaqi menjelaskan bahwa hakikat zuhud adalah mengambil dunia sekadar kebutuhan, lalu menggunakan sisanya untuk kebaikan dan ibadah. Sikap ini melahirkan sifat qana’ah, tawakal, dan syukur.

Ciri-Ciri Orang Zuhud

Beberapa ciri orang yang memiliki sifat zuhud antara lain:

  1. Tidak berlebihan mencintai harta dan kedudukan.
  2. Bersyukur ketika mendapat nikmat dan bersabar ketika kehilangan.
  3. Lebih mengutamakan ibadah daripada kemewahan dunia.
  4. Hidup sederhana walaupun mampu hidup mewah.
  5. Menggunakan harta untuk kebaikan dan membantu sesama.

Hikmah Zuhud

Sikap zuhud memberikan banyak manfaat bagi kehidupan seorang muslim, di antaranya:

  • Hati menjadi tenang dan tidak mudah gelisah.
  • Terhindar dari sifat tamak dan iri hati.
  • Lebih fokus beribadah kepada Allah SWT.
  • Menumbuhkan rasa syukur dan qana’ah.
  • Mendapat kecintaan Allah dan manusia.

Penutup

Zuhud menurut ulama bermazhab Syafi’i bukanlah meninggalkan dunia sepenuhnya, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama kehidupan. Seorang muslim tetap boleh bekerja, memiliki harta, dan menikmati rezeki halal, selama hatinya tetap bergantung kepada Allah SWT dan akhirat lebih diutamakan daripada dunia.

Dengan meneladani kehidupan Imam Syafi’i dan para ulama Syafi’iyah, umat Islam dapat menjalani hidup yang sederhana, penuh syukur, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan anda !