CARI DI GOOGLE

Total Tayangan Halaman

Kamis, 24 September 2026

WARISAN MENURUT AGAMA ISLAM

JANGAN MEMBAGI WARISAN SELAGI KITA MASIH HIDUP

Harta adalah amanah. Anak adalah amanah. Keluarga adalah amanah. Dan umur juga adalah amanah.

Karena itu, ketika berbicara tentang harta keluarga, jangan hanya berpikir tentang siapa yang akan mendapat bagian. Kita juga harus berpikir tentang bagaimana menjaga keadilan, menjaga hubungan keluarga, dan menjaga agar harta tidak menjadi sumber pertengkaran setelah kita tiada.

Salah satu persoalan yang sering terjadi dalam keluarga adalah keinginan orang tua untuk membagi warisan kepada anak-anak ketika dirinya masih hidup.

Niatnya mungkin baik.

Ada yang ingin melihat anak-anak mendapatkan bagian ketika dirinya masih ada.

Ada yang ingin menghindari pertengkaran setelah meninggal.

Ada pula yang berpikir, "Daripada nanti anak-anak berebut, lebih baik sekarang saya bagi semuanya."

Namun dalam perspektif hukum waris Islam, perlu dipahami dengan baik:

Kamis, 17 September 2026

JANGAN HANYA MENGAKU BERAGAMA — BUKTIKAN DENGAN KETAATAN

Agama bukan sekadar ucapan. 
Agama bukan sekadar identitas.
Agama bukan sekadar ilmu yang kita hafalkan.
Agama adalah amanah yang harus kita jalankan.
Kita sering berbicara tentang Islam. Kita sering berbicara tentang hukum, sunnah, mazhab, ulama, dan perbedaan pendapat. Kita bisa panjang lebar berdiskusi tentang persoalan agama.
Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting untuk kita renungkan:
Sudahkah kewajiban kita kepada Allah benar-benar kita tunaikan?
Sebab pada akhirnya, bukan banyaknya perdebatan yang akan menjadi ukuran ketaatan kita. Bukan pula gelar, jabatan, atau pengakuan manusia yang menjadi ukuran utama.
Yang terpenting adalah ketaatan kita kepada Allah dan kesungguhan kita menjalankan kewajiban yang telah ditetapkan-Nya.
JIKA ANDA BERAKAL, PASTILAH ANDA SHALAT

Sabtu, 20 Juni 2026

Kenapa Chat Kita Selalu Salah Diartikan?

Sering kali bukan karena niat kita buruk, tetapi karena pesan yang kita kirim tidak membawa ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh yang biasanya membantu orang memahami maksud kita. Akibatnya, satu kalimat yang kita anggap biasa saja bisa diterima dengan makna yang berbeda oleh orang lain.

Dalam komunikasi melalui chat, setiap orang membaca pesan dengan kondisi emosi, pengalaman, dan sudut pandangnya masing-masing. Saat sedang lelah, kecewa, atau sensitif, seseorang bisa menafsirkan pesan yang netral sebagai sindiran, kemarahan, atau ketidakpedulian. Sebaliknya, pesan yang sebenarnya serius kadang dianggap bercanda.

Kesalahpahaman juga muncul ketika kita terlalu singkat dalam menjelaskan sesuatu. Kita merasa sudah jelas, tetapi orang lain tidak memiliki informasi yang sama dengan yang ada di pikiran kita. Mereka akhirnya mengisi bagian yang kosong dengan asumsi mereka sendiri.